Sebagai sebuah organisasi dakwah kampus, LDK harus mencapai tingkat kematangan tertentu. Proses untuk menuju kematangan itu ada tahap-tahapnya. Proses menuju kematangan ini bahkan sudah dibantu dengan sebuah “peta perjalanan†yang bernama “manhaj dakwah kampus†yang di dalamnya dijelaskan strategi-strategi yang harus dilakukan pada setiap tahap. Ibaratnya perusahaan atau enterprise, manhaj dakwah kampus ini merupakan petunjuk mengenai cara-cara agar menjadi perusahaan papan atas secara bertahap, dengan mempertimbangkan berbagai faktor.
Nah, pada tahap-tahap tertentu, LDK biasanya akan menghadapi permasalahan yang berbeda-beda, sesuai dengan tahapan dakwah kampus yang LDK bersangkutan. Dan pada umumnya, masalah yang dihadapi pada tahap yang lebih tinggi, adalah masalah yang sifatnya lebih luas dan lebih strategis. Sedangkan masalah yang ada di tahap awal biasanya merupakan masalah teknis.
Namun dalam berbagai pertemuan kita, kadang kala muncul diskusi-diskusi yang membahas permasalahan yang sebenarnya sudah pernah terjadi. Permasalahan yang dibahas seringkali adalah permasalahan yang dahulu pernah terjadi, pernah terjadi di tahap yang lalu, namun kini terjadi lagi dengan bentuk yang mirip. Herannya, seakan-akan kita bingung bagaimana harus menyelesaikannya. Padahal kita pernah menghadapi masalah yang serupa.
Apa kira-kira yang menyebabkan hal itu terjadi?
Saya pikir banyak faktor yang menyebabkannya. Misalnya, tidak adanya catatan (semacam log book) historis/permasalahan yang pernah dilalui selama perjalanan dakwah kampus semenjak berdirinya. Sehingga setiap kali ada pengurus baru, pengurus yang baru ini tidak mengerti jejak-jejak yang pernah dilalui oleh LDK semenjak berdirinya. Dengan kata lain, pengurus yang baru ini tidak mengetahui sudah berapa kilometer perjalanan dakwah kampus, untuk menuju visi dan misi yang dijelaskan dalam manhaj dakwah kampus.
Di sinilah pentingnya kita memperhatikan proses pergantian pengurus. Kita sering kali menyepelekan proses pergantian pengurus. Kadang kita baru memperhatikan proses regenerasi pengurus 1 bulan sebelumnya. Seharusnya, 6 bulan (bahkan 1 tahun) sebelumnya kita sudah memikirkan proses regenerasi berikutnya, mulia dari mempersiapkan personil pengganti, mempersiapkan perangkat-perangkatnya, dan lain-lain.
Dan yang lebih penting dari itu adalah pada saat pergantian pengurus dari yang lama ke yang baru. Proses ini memakan waktu cukup singkat namun sangat krusial. Di sinilah proses pentransferan ilmu dari pengurus yang lama ke pengurus yang baru. Di sinilah pengurus yang lama memberikan peta perjalanan ke pengurus yang baru. Sehingga pengurus yang baru tahu harus kemana mengarahkan perjalanan berikutnya, menuju visi misi dalam manhaj dakwah kampus.
Untuk memastikan hal di atas berjalan dengan baik, maka butuh sebuah lembaga tersendiri yang menjalankan peran dan fungsi ini. Peran dan fungsi ini pada umumnya dilakukan oleh majelis syuro dakwah kampus yang bersangkutan. Oleh karena itu, majelis syuro harus memastikan itu semua berjalan dengan baik, sehingga pengurus baru dapat meneruskan perjalanan dengan baik.