hdn.or.id - Beberapa pekan yang lalu, kita melewati sebuah peristiwa sejarah yang sangat monumental. Momentum sejarah tersebut adalah peristiwa yang terjadi sekitar 14 abad Hijriyah yang lalu, yaitu peristiwa Isra' Mi'raj. Pada saat itu Nabi Muhammad SAW diperjalankan oleh Allah dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Al-Quds, lalu dilanjutkan dengan menembus lapisan langit tertinggi sampai batas yang tidak dapat dijangkau oleh ilmu semua makhluq, malaikat, manusia, dan jin. Semua itu ditempuh dalam sehari semalam. Peristiwa itu sekaligus sebagai mukjizat mengagumkan yang diterima Rasulullah SAW.
Permintaan kaum kafir Quraisy kepada Nabi SAW
Sebenarnya, sebelum peristiwa itu terjadi, orang-orang kafir Quraisy pernah meminta kepada Rasulullah untuk menunjukkan hal-hal yang aneh, karena mereka tidak percaya kalau Muhammad SAW itu adalah nabi. Permintaan-permintaan itu mereka lontarkan untuk membuktikan bahwa dirinya benar-benar seorang Nabi. Hal ini direkam oleh Allah dalam Al Qur'an sebagai berikut:
hdn.or.id - Ilmu pengetahuan dari zaman ke zaman terus mengalir dan mengalami perkembangan. Proses tersebut tidak terlepas dari mata rantai yang ada sehingga ilmu pengetahuan mengalir dari satu orang ke orang lain, dari satu institusi ke institusi lain. Mata rantai itu juga tidak terlepas dari media yang digunakannya. Dahulu media yang digunakan adalah media satu arah, seperti misalnya buku bacaan, majalah-majalah jurnal, alat pemodelan, perpustakaan, dan lain-lain. Pencari ilmu pengetahuan tinggal membacanya. Selain itu juga ada media dua arah, misalnya pertemuan kelas perkuliahan, sekolah, seminar, dll. Lalu muncul media yang relatif lebih multimedia seperti misalnya radio dan televisi. Pencari ilmu bisa mendapatkan gambar nyata dan suara untuk memperoleh ilmu pengetahuan dari radio dan TV. Dan hari ini media yang digunakan sudah mulai menggunakan media dua arah atau interaktif, dan dapat dijadikan media kolaborasi, tanpa terikat letak geografis dan waktu. Hal tersebut tidak terlepas dari munculnya teknologi Web 2.0 di dunia internet.
hdn.or.id - Zaman sekarang dapat disebut sebagai zaman era informasi. Kalau dahulu kita harus berusaha mencari informasi, kini kita harus berusaha menseleksi informasi. Informasi (selanjutnya kita sebut dengan berita) di zaman sekarang bagaikan air bah, membanjiri setiap media dan para penerima berita. Tidak sedikit yang kewalahan akibat kebanjiran berita. Apalagi karakter dasar berita yang berasal dari manusia adalah bahwa berita itu bisa benar dan bisa juga salah. Untuk itu sudah saatnya kita menyusun prinsip dasar dalam menerima dan menyebarkan berita. Dan berikut ini sekedar tulisan ringan seputar prinsip dasar tersebut, mudah-mudahan bermanfaat.
Prinsip di bawah ini terkait erat dengan dengan pola hidup berjamaah, berorganisasi, atau bermasyarakat teratur. Prinsip di bawah ini sulit diterapkan jika kita menerapkan pola hidup yang individualis. Oleh karena itu sebelum menerapkan prinsip di bawah ini, pastikan bahwa kita adalah bagian dari sebuah jamaah, organisasi, atau masyarakat yang teratur dan disiplin dalam hidupnya.
Tahun 2009 segera tiba. Bagi Indonesia, tahun 2009 akan menjadi tahun yang penuh dengan agenda, khususnya agenda demokrasi. Setidaknya akan ada dua agenda besar pada tahun 2009, yaitu Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden-Wakil Presiden. Untuk Pemilu Legislatif sendiri, KPU sudah memutuskan bahwa waktu untuk melakukan kampanye Parpol sudah dimulai pada bulan Juli 2008 ini. Agenda-agenda seperti ini tak pelak akan membuat setiap partai politik dan Capres-Cawapres untuk melakukan kampanye dengan berbagai cara, tentunya dengan cara yang sesuai dengan undang-undang yang berlaku.
Dalam melakukan kampanye, mereka akan membutuhkan media. Media kampanye bisa bermacam-macam, mulai dari yang berjenis konvensional seperti dialog, arak-arakan di jalan, selebaran, stiker, buletin, dll, hingga yang memanfaatkan teknologi seperti memanfaatkan internet. Mengaca pada model kampanye yang dilakukan oleh Capres AS, Barack Obama, media internet akan menjadi media kampanye yang diperhitungkan. Apalagi sejalan dengan agenda Pemerintah RI, dalam hal ini Depkominfo, untuk menghubungkan setiap rumah dengan akses internet. Ditambah lagi dengan agenda untuk menurunkan biaya akses internet di Indonesia. Hal tersebut merupakan prospek besar untuk setiap Parpol dan Capres.
Dalam melakukan kegiatannya, Lembaga Dakwah Kampus (LDK) niscaya membutuhkan dokumentasi. Manfaat dari dokumentasi bisa bermacam-macam, antara lain untuk dilampirkan dalam Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) panitia, laporan ke donatur, untuk dimuat di media (media pers internal maupun eksternal), pameran/ekspo Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus, campaign kit rekruitmen, presentasi UKM, dsb. Dokumentasi bisa berbentuk video atau foto. Dan berikut ini adalah beberapa tips dalam pengambilan foto dokumentasi kegiatan LDK:
Film Fitna, menjadi headline di beberapa media. Lantas film produksi sekelompok sekularis di Belanda ini sekonyong-konyong menjadi sorotan utama di beberapa negara, bahkan PBB pun memberikan pernyataannya terkait dengan kemunculan film tersebut. Ada apa gerangan dengan film tersebut? Mengapa bisa membuat heboh? Padahal hanya diproduksi oleh politisi - edan - di Belanda, bukan diproduksi sineas professional. Selain itu juga "hanya" di muat di internet, tidak ditayangkan di bioskop-bioskop terkenal. Tapi mengapa membuat heboh sedemikian rupa, sampai PBB, presiden, anggota dewan perlu memberikan pernyataannya?
Barangkali yang menjadikannya "heboh" adalah bahwa film propaganda tersebut mengusung tema mengenai keterkaitan langsung antara Al Qur'an dan terorisme yang terjadi selama ini. Dengan tema itu, tentu saja jadi heboh, karena betul-betul menfitnah umat Islam di seluruh dunia, sehingga film ini bisa dikatakan sebagai film yang ingin menyebarkan kebencian terhadap Islam. Tapi apakah hanya karena tema itu yang menjadikan film ini heboh? Sebab, kalau hanya karena tema-nya, ada juga film-film lain di internet yang mengusung propaganda menyudutkan Islam tapi tidak sampai seheboh Fitna.
hdn.or.id - Dakwah kampus memiliki tujuan utama, yaitu ingin menghasilkan alumni-alumni yang berafiliasi kepada Islam, dan optimalisasi peran kampus dalam upaya mentransformasi masyarakat menuju masyarakat Islami. Untuk mencapai tujuan utama ini, ada beberapa sasaran yang harus dicapai oleh sebuah lembaga dakwah kampus. Salah satu sasaran tersebut adalah terbentuknya bi’ah (lingkungan) yang kondusif bagi kehidupan Islami di kampus, baik dalam sisi moral, intelektual, maupun tanggungjawab sosial. Bi'ah Islami inilah yang seharusnya menjadi salah satu perhatian pokok bagi pengelola dakwah kampus.